Senin, 03 Desember 2012
NASA Ungkap Berbagai Potensi Kiamat 2012
Tembok Besar China Terlihat dari Bulan
Senin, 12 Desember 2011
Asam Dipikolinat (piridin-2,6-dikarboksilat) Sebagai Ligan Pilihan Pada Kompleks Untuk
Dipikolinat ini banyak ditemukan dalam beberapa senyawa alami sebagai suatu produk degradasi oksidatif dari vitamin, koenzim, dan alkaloid, serta merupakan suatu komponen dari fulvic acid. Asam dipikolinat (piridin-2,6-dikarboksilat) juga menunjukkan beberapa fungsi biologis, di antaranya adalah kemampuan untuk aktivasi-inaktivasi dari beberapa mettaloenzim, penghambat transfer elektron, oksidasi LDL, selain itu juga toksisitas yang rendah (low toxicity) dari piridin-2,6-dikarboksilat banyak digunakan dalam model senyawa metallo-pharmaceutical (Zafar A. Siddiqi. 2009).
Akhirnya, asam dipikolinat menjadi salah satu ligan yang paling sesuai untuk senyawa pharmacological yang aktif, karena sifatnya yang rendah toksisitas dan amphophilic (AC. Gozales-Baro. 2005). Turunan asam karboksilat dan piridin telah banyak ditemukan kegunaannya dalam bidang kimia analitik dan sebagai penghambat korosi. Suatu asam dengan gugus karboksilat yang bertetangga dengan atom nitrogen berperan dalam suatu pembentukan reaksi kompleks dengan beragam ion logam (B. Setlow. 1993).
Asam dipikolinat juga merupakan penyusun utama dari bakteri spora. Dalam beberapa bakteri, asam dipikolinat menyumbang 17% dari berat spora. Asam dipikolinat (H2dipic), atau piridin-2,6-dikarboksilat dipercaya merupakan faktor utama yang berperan dalam melindungi spora dari panas dan radiasi UV (Alper Tolga, et al. 2009). Senyawa ini juga berperan untuk menjaga kestabilan dan pertumbuhan spora. Asam dipikolinat dalam sistem biologis, dipelajari pertama kali oleh Udo pada tahun 1936. Keberadaan asam piridin-2,6-dikarboksilat pada spora bakteri dipelajari oleh Powell pada tahun 1953. Molekul ini juga terdapat pada beberapa jamur.
Molekul ini tidak bereaksi dalam beberapa perubahan kimia, karena sifatnya yang inert dan tidak reaktif, tetapi mendapat perhatian yang lebih dalam bidang biologi, karena keberadaannya pada spora bakteri. Molekul asam piridin-2,6-dikarboksilat juga merupakan suatu agen pengkelat yang utama, sifat ini telah dipelajari dalam pergeseran kesetimbangan chiral-induced, yang dikenal juga sebagai efek Pfeiffer. Efek ini telah digunakan untuk membuktikan kemampuan optis dari kelat ion dipikolinat dengan beberapa logam lanthanida.
Diskusikan lebih lanjut di forum
Minggu, 11 Desember 2011
Spektroskopi Gamma

Sinar gamma sebenarnya hampir sama dengan sinar X , hanya saja sinar X lebih lemah. Sinar gamma ini dihasilkan oleh suatu bahan radioaktif. Sinar gamma adalah termasuk sinar yang tidak dapat dilihat oleh mata, untuk itu perlu adanya detektor. Detektor yang digunakan adalah NaI (Tl), detektor ini juga digunakan untuk sinar x, hanya saja detektor untuk gamma lebih tebal sedikit. Cara kerja dari detektor ini adalah sebagai berikut :
Apabila sinar gamma mengenai detektor NaI(Tl) maka akan terjadi tiga efek, yaitu efek fotolistrik, efek compton dan bentukan pasangan. Efek fotolistrik terjadi apabila ada sinar gamma yang mengenai elektron d kulit K dari sebuah atom maka elektron tersebut akan kosong sehingga akan diisi oleh elektron dari kulit yang lain, transisi ini yang menyebabkan terjadinya efek fotolistrik. Efek compton adalah efek yang terjadi apabila sinar gamma (dalam hal ini) mengenai elektron bebas atau elektron terluar dari suatu atom yang dianggap daya ikatnya sangatlah kecil sehingga sama dengan elektron bebas. Apabila sinar gamma memancar ke elektron bebas ini maka akan terjadi hamburan, yang disebut hamburan compton. Sedangkan Efek bentukan pasangan terjadi ketika sinar gamma melaju di dekat inti atom sehingga akan terbentuk pasangan positron dan elektron, syaratnya tenaga sinar haruslah cukup.
Dari ketiga efek tersebut, efek comptonlah yang paling kuat hal ini diakibatkan karena tenaga yang digunakan untuk melepas elektron juga yang lebih besar. Dan dari ketiga efek tersebut menghasilkan sintilasi atau pancaran cahaya, pancaran cahaya ini akan diteruskan ke fotokatoda yang dapat menguraikan cahaya ini menjadi elektron -elektron. Elektron ini masih lemah maka harus dikuatkan lagi dayanya oleh pre amplifier, dan dikuatkan tinggi pulsa dengan amplifier. Lalu elektron tadi dimasukkan ke PMT yang terdiri dari tegangan bertingkat dan banyak katoda, keluaran dari PMT menjadi berganda. Kemudian melalui counter nilai cacahnya dapat diketahui.
Yang perlu diketahui bahwa dalam spektroskopi gamma juga dicari resolusi tenaganya. Ternyata semakin kecil resolusinya semakin bagus data yang diperoleh, semakin besar resolusinya maka semakin tidak valid data yang diperoleh. Pola berfikirnya adalah sebagai berikut : dari data cacah nanti akan dapat dibuat grafik, dari grafik itu akan terlihat puncak-puncak gunung. Apabila resolusinya besar maka bisa saja didapat satu puncak gunung, eh ternyata didalamnya banyak punca-puncak yang tidak terbaca. Berarti resolusi besar belum tentu baik lho.
Pintar Saja Tidak Cukup

Dulu, ketika kami masih SD, Ibu kerap menceritakan keberhasilan salah seorang kenalannya. Setiap menjelang tidur, dengan rasa bangga yang tergurat jelas pada wajahnya, is menguraikan bagaimana kenalannya itu berhasil menyekolahkan anak-anak mereka hingga ke luar negeri. Kenalannya adalah seorang guru, iaiknya ibu-bapak kami, dengan 4 orang anak. Dengan penghasilan pas-pasan seorang guru, mereka berhasil mengantarkan keempat orang anak mereka hingga menamatkan tahap pendidikan S-1.
Anak-anak ini pintar, kalau tidak dapat dikatakan genius. Tiga di antara mereka mendapat beasiswa ke luar negeri karena kehebatan dan kecerdasan mereka. Ketika pulang, mereka mendapatkan jabatan yang sangat bergengsi. Saya bertemu 2 di antara mereka beberapa tahun lalu. Dengan rasa bangga yang masih tersisa dari ibu saya dulu, saya bercerita banyak dengan mereka. Namun, pada akhir pembicaraan, rasa bangga saya mulai berangsur sirna. Mereka ternyata orang-orang yang gaga! membina keluarga, kurang berhasil dalam karier, dan seperti mengalami kebingungan emosional yang sangat dahsyat. Satu di antara mereka adalah pengunjung tetap klub malam untuk mencari hiburan dan keriangan.
Saya mengenal mereka jauh Iebih dalam dan intimate ketimbang saya mengenal Takuan. Takuan tak Iebih dari pendeta kebanyakan. is tak pintar main samurai seperti Takezo. Namun, ketika para hulubalang raja yang piawai memainkan pedang tak berhasil mengalahkan dan menangkap Takezo, Takuan memberanikan diri menangkapnya. Bukan dengan pedang, apalagi dengan kekerasan, apa pun bentuknya. Ia menangkap Takezo dengan permainan seruling. Mendayu, mendayu, tetapi menghanyutkan. Takezo, yang di kemudian hari berganti nama menjadi Musashi Miyamoto, waihasil dibawa ke raja. Tidak untuk dihukum sebagai pembangkang. Ia dijebloskan ke dalam penjara pengetahuan. Ia dijejali dengan kitab-kitab berhikmat-bijaksana dalam kungkungan penjara dengan tembok-temboknya yang kokoh.
Saya membaca kisah Takuan dan Takezo ketika beberapa tahun Iampau harian Kompasmemuat secara berseri kisah klasik Jepang ini. Hidetsugu (Eiji) Yoshikawa— yang menulis cerita di atas sepanjang 26.000 halaman dan dimuat secara berseri di koran Asahi Shinbun dalam rentang waktu 4 tahun (1935-1939)—menukik tajam pada apa yang oleh ilmu psikologi modern disebut karakter. Takezo adalah samurai tak berbanding. Ia tenar dan belum pernah dikalahkan. Kepiawaiannya memainkan pedang bagaikan jari-jemari Mozart di atas tuts piano, setali tiga uang dengan Pete memainkan bola di kakinya. Memakai istilah psikologi, Takezo memiliki kompetensi tinggi dalam memainkan pedang. la digelari manusia pedang karena kehebatannya menarikan pedang hingga membunuh Iawannya tanpa terasa. Sebelum ditangkap oleh Takuan dan diberi bacaan puluhan kitab, Takezo adalah samurai yang memiliki kompetensi tinggi, tetapi tidak memiliki karakter. Dalam bentuk film yang dibuat beberapa waktu setelah novelnya diterbitkan, diperlihatkan bagaimana Takezo membunuh lawan-lawannya dengan sekali sabet.
Kompetensi, IQ
Anak kenalan ibu saga dan juga ahli pedang Takezo jelasjelas memiliki kompetensi atau biasa disebut IQ (Intelligence Quotient) yang bagus. Ukuran ini adalah puncak keunggulan yang disasar oleh hampir semua lembaga pendidikan di Indonesia. Anda yang punya anak SD saja dijejali dengan banyak kompetensi yang harus dikuasai. Departemen Pendidikan Nasional bahkan mewajibkan adanya KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) pada semua lembaga pendidikan. Dokter-dokter atau insinyurinsinyur di semua PTN/PTS diwajibkan memiliki kompetensi tertentu untuk bisa berpraktik. Ringkasnya, kecerdasan, kompetensi, IQ, nilai rapor, IP, atau apa pun istilahnya, adalah standar-standar yang harus dimiliki seseorang untuk diluluskan. Tidak mengherankan jika semua perusahaan swasta dan kantor pemerintah mensyaratkan semua nilai itu agar seseorang dapat diterima sebagai karyawan. Juga tidak aneh jika orang yang memiliki IP, IQ, nilai rapor, dan kompetensi yang tinggi mendapatkan penghormatan yang (sering kali) berlebihan dari komunitasnya. Di sebuah sekolah yang kerap saya kunjungi, anak-anak yang IQ-nya tinggi diperlakukan laiknya orang terhormat dan dipuji secara berlebihan. Mereka disebut si Pintar. Sementara yang lain disebut si Bodoh, atau si Pas-pasan.
Orang pintar, apalagi dengan tingkat pendidikan hingga S-3 atau bahkan bergelar profesor, selalu diyakini sebagai orang-orang hebat dan jaminan mutu untuk menyelesaikan semua hal. Kalau ada suatu kepanitiaan atau lembaga yang butuh ketua, biasanya orang-orang ini mendapat prioritas memimpin. Kalau ada pertemuan, mereka mendapat tempat terhormat dan duduk di bangku terdepan. Gelar mereka diyakini menjadi garansi keberhasilan. Apalagi kalau orang pintar itu lulusan perguruan tinggi terkenal di dalam atau (apalagi) luar negeri. Gelar mereka sangat diyakini merupakan obat cespleng untuk berbagai problem. Mereka seperti Takezo yang dibutuhkan sebagai petarung hebat dalam pertempuranpertempuran.
Walaupun hal ini lazim di Indonesia, bagi saya itu • merupakan hal yang sungguh mengejutkan. Alasannya, mengherankan bahwa orang yang 70 persen hidupnya berurusan dengan zat-zat kimia, tabung-tabung reaksi, dan setumpuk buku, terkungkung dalam dunia bernama laboratorium, tiba-tiba dianggap bergaransi sukses mengatur segala sesuatu hanya karena mereka bergelar doktor, profesor, sekolah di luar negeri, dan ahli pada bidangnya. Kompetensi mereka tidak diragukan, tetapi mungkin yang perlu diperhatikan adalah karakter, atau apa yang populer dengan istilah EQ (Emotional Quotient, kecerdasan emosi).
Karakter, EQ
Kalau kita mau jujur, sesungguhnya keberhasilan mengelola hidup (karier, rumah tangga, pergaulan) tidak hanya ditentukan oleh gelar-gelar, pendidikan tertinggi, IP, apalagi IQ. Orang pintar tidak punya jaminan juga pintar mengatur hidup. Tidak ada jaminan bahwa para penyandang gelar tertinggi atau yang lulus aim laude dari sekolah adalah manajer yang baik. Setidaknya bagi hidup mereka sendiri. Kenalan ibu saya memberi bukti hidup tentang itu. Gelar dan jabatan terbaik yang dimilikinya tidak memberi kontribusi yang bermakna dalam Iaboratorium yang bernama masyarakat dan rumah tangganya. Kesadaran diri (self-awareness), keterampilan sosial
(social skill), motivasi diri (personal motivation), dan empati yang ditemukan dalam riset-riset ilmiah merupakan kunci keberhasilan dalam mengelola hidup. Hal-hal ini adalah skill of life (keterampilan hidup) yang lebih banyak dibangun oleh EQ ketimbang IQ.
IQ = kompetensi
EQ = karakter
Kecerdasan emosi jauh lebih lambat diperhatikan ketim bang IQ, termasuk oleh lembaga pendidikan. Beberapa kenalan saya di Manado adalah orang-orang terbaik dalam setiap penataran, penjenjangan karier ataupun promosi jabatan. Namun, beberapa orang di antara mereka tidak bisa mengontrol amarah, tidak bisa bekerja sama dengan orang lain, kurang terbuka, tidak bisa berempati, tidak bisa memaafkan, sinis, dan gampang curiga. Mereka tidak seperti Musashi (setelah berganti nama dari Takezo) yang mengenal dirinya selincah dan seterampil is mengenal pedangnya. Anda perhatikan betapa banyak sebuah kepemimpinan gagal bukan karena pemimpinnya bodoh, tetapi karena is tidak punya kecerdasan emosi. Bagaimana is mengenal dan mengerti orang lain jika is tidak mengerti dirinya? la tidak punya keterampilan sosial. “To understand others, we must understand ourselves,” menurut sebuah nasihat. “Siapa mengenal dirinya, akan mengenal Tuhannya,” kata para mistikus.
Karakter dan kompetensi, atau IQ dan EQ, adalah kompas yang tepat sebagai sarana menakhodai hidup yang memang sudah susah ini. Jauhkan asumsi yang menyamakan kepintaran (IQ) dengan keberhasilan dan kesuksesan. Hati-hati dengan orang yang menganggap gelar-gelar, nilai rapor, IP atau IQ-nya sebagai jaminan kemampuannya mengelola kehidupan. Kita butuh Iebih dari sekadar pintar.
Proses Reproduksi Pada Manusia (Biologi)

Proses reproduksi pada manusia meliputi:
A. Spermatogenesis
Proses pembentukan dan pemasakan spermatozoa disebut spermatogenesis. Pada tubulus seminiferus testis terdapat sel-sel induk spermatozoa atau spermatogonium, sel Sertoli yang berfungsi memberi makan spermatozoa juga sel Leydig yang terdapat di antara tubulus seminiferus yang berfungsi menghasilkan testosteron. Proses pembentukan spermatozoa dipengaruhi oleh kerja beberapa hormon.
Kelenjar hipofisis menghasilkan hormon perangsang folikel (Folicle Stimulating Hormone/FSH) dan hormon lutein (Luteinizing Hormone/LH). LH merangsang sel Leydig untuk menghasilkan hormon testosteron. Pada masa pubertas, androgen/testosteron memacu tumbuhnya sifat kelamin sekunder. FSH merangsang sel Sertoli untuk menghasilkan ABP (Androgen Binding Protein) yang akan memacu spermatogonium untuk memulai proses spermatogenesis. Proses pemasakan spermatosit menjadi spermatozoa disebut spermiogenesis. Spermiogenesis terjadi di dalam epididimis dan membutuhkan waktu selama 2 hari.
Proses Spermatogenesis : Spermatogonium berkembang menjadi sel spermatosit primer. Sel spermatosit primer bermiosis menghasilkan spermatosit sekunder, spermatosit sekunder membelah lagi menghasilkan spermatid, spermatid berdiferensiasi menjadi spermatozoa masak. Bila spermatogenesis sudah selesai, maka ABP testosteron (Androgen Binding Protein Testosteron) tidak diperlukan lagi, sel sertoli akan menghasilkan hormon inhibin untuk memberi umpan balik kepada hipofisis agar menghentikan sekresi FSH dan LH.
Spermatozoa akan keluar melalui uretra bersama-sama dengan cairan yang dihasilkan oleh kelenjar vesikula seminalis, kelenjar prostat dan kelenjar cowper. Spermatozoa bersama cairan dari kelenjar-kelenjar tersebut dikenal sebagai semen atau air mani. Pada waktu ejakulasi, seorang laki-laki dapat mengeluarkan 300 – 400 juta sel spermatozoa.
B. Oogenesis
Di dalam ovarium janin sudah terkandung sel pemula atau oogonium. Oogonium akan berkembang menjadi oosit primer. Saat bayi dilahirkan oosit primer dalam fase profase pada pembelahan meiosis. Oosit primer kemudian mengalami masa istirahat hingga masa pubertas.
Pada masa pubertas terjadilah oogenesis. Oosit primer membelah secara meiosis, menghasilkan 2 sel yang berbeda ukurannya. Sel yang lebih kecil, yaitu badan polar pertama membelah lebih lambat, membentuk 2 badan polar. Sel yang lebih besar yaitu oosit sekunder, melakukan pembelahan meiosis kedua yang menghasilkan ovum tunggal dan badan polar kedua. Ovum berukuran lebih besar dari badan polar kedua.
Pengaruh Hormon dalam Oogenesis. Kelenjar hipofisis menghasilkan hormon FSH yang merangsang pertumbuhan sel-sel folikel di sekeliling ovum. Ovum yang matang diselubungi oleh sel-sel folikel yang disebut Folikel Graaf, Folikel Graaf menghasilkan hormon estrogen. Hormon estrogen merangsang kelenjar hipofisis untuk mensekresikan hormon LH, hormon LH merangsang terjadinya ovulasi. Selanjutnya folikel yang sudah kosong dirangsang oleh LH untuk menjadi badan kuning atau korpus luteum. Korpus luteum kemudian menghasilkan hormon progresteron yang berfungsi menghambat sekresi DSH dan LH. Kemudian korpus luteum mengecil dan hilang, sehingga aklurnya tidak membentuk progesteron lagi, akibatnya FSH mulai terbentuk kembali, proses oogenesis mulai kembali.
Catatan : Pada laki-laki spermatogenesis terjadi seumur hidup, dan pelepasan spermatozoa dapat terjadi setiap saat. Pada wanita, ovulasi hanya berlangsung sampai umur sekitar 45 – 5O tahun. Seorang wanita hanya mampu menghasilkan paling banyak 400 ovum selama hidupnya, meskipun ovarium seorang bayi perempuan sejak lahir sudah berisi 500 ribu sampai 1 juta oosit primer.
C. Siklus Menstruasi
Setiap bulan wanita melepaskan satu sel telur dari salah satu ovariumnya. Bila sel telur ini tidak mengalami pembuahan maka akan terjadi perdarahan (menstraasi). Menstruasi terjadi secara perfodik satu bulan sekali. Saat wanita tidak mampu lagi melepaskan ovum karena sudah habis tereduksi, menstruasi pun menjadi tidak teratur lagi, sampai kemudian terhenti sama sekali. Masa ini disebut menopause.
Siklus menstruasi terjadi pada manusia dan primata. Sedang pada mamalia lain terjadi siklus estrus. Bedanya, pada siklus menstruasi, jika tidak terjadi pembuahan maka lapisan endometrium pada uterus akan luruh keluar tubuh, sedangkan pada siklus estrus, jika tidak terjadi pembuahan, endomentrium akan direabsorbsi oleh tubuh.
Umumnya siklus menstruasi terjadi secara periodik setiap 28 hari (ada pula setiap 21 hari dan 30 hari) yaitu sebagai berikut : Pada hari 1 sampai hari ke-14 terjadi pertumbuhan dan perkembangan folikel primer yang dirangsang oleh hormon FSH. Pada seat tersebut sel oosit primer akan membelah dan menghasilkan ovum yang haploid. Saat folikel berkembang menjadi folikel Graaf yang masak, folikel ini juga menghasilkan hormon estrogen yang merangsang keluarnya LH dari hipofisis. Estrogen yang keluar berfungsi merangsang perbaikan dinding uterus yaitu endometrium yang habis terkelupas waktu menstruasi, selain itu estrogen menghambat pembentukan FSH dan memerintahkan hipofisis menghasilkan LH yang berfungsi merangsang folikel Graaf yang masak untuk mengadakan ovulasi yang terjadi pada hari ke-14, waktu di sekitar terjadinya ovulasi disebut fase estrus. Selain itu, LH merangsang folikel yang telah kosong untuk berubah menjadi badan kuning (Corpus Luteum). Badan kuning menghasilkan hormon progesteron yang berfungsi mempertebal lapisan endometrium yang kaya dengan pembuluh darah untuk mempersiapkan datangnya embrio. Periode ini disebut fase luteal, selain itu progesteron juga berfungsi menghambat pembentukan FSH dan LH, akibatnya korpus luteum mengecil dan menghilang, pembentukan progesteron berhenti sehingga pemberian nutrisi kepada endometriam terhenti, endometrium menjadi mengering dan selanjutnya akan terkelupas dan terjadilah perdarahan (menstruasi) pada hari ke-28. Fase ini disebut fase perdarahan atau fase menstruasi. Oleh karena tidak ada progesteron, maka FSH mulai terbentuk lagi dan terjadilan proses oogenesis kembali.
D. Pembentukan Embrio
Peristiwa fertilisasi terjadi di saat spermatozoa membuahi ovum di tuba fallopii, terjadilah zigot, zigot membelah secara mitosis menjadi dua, empat, delapan, enam belas dan seterusnya. Pada saat 32 sel disebut morula, di dalam morula terdapat rongga yang disebut blastosoel yang berisi cairan yang dikeluokan oleh tuba fallopii, bentuk ini kemudian disebut blastosit. Lapisan terluar blastosit disebut trofoblas merupakan dinding blastosit yang berfungsi untuk menyerap makanan dan merupakan calon tembuni atau ari-ari (plasenta), sedangkan masa di dalamnya disebut simpul embrio (embrionik knot) merupakan calon janin. Blastosit ini bergerak menuju uterus untuk mengadakan implantasi (perlekatan dengan dinding uterus).
Pada hari ke-4 atau ke-5 sesudah ovulasi, blastosit sampai di rongga uterus, hormon progesteron merangsang pertumbuhan uterus, dindingnya tebal, lunak, banyak mengandung pembuluh darah, serta mengeluarkan sekret seperti air susu (uterin milk) sebagai makanan embrio.
Enam hari setelah fertilisasi, trofoblas menempel pada dinding uterus (melakukan implantasi) dan melepaskan hormon korionik gonadotropin. Hormon ini melindungi kehamilan dengan cara menstrimulasi produksi hormon estrogen dan progesteron sehingga mencegah terjadinya menstruasi. Trofoblas kemudian menebal beberapa lapis, permukaannya berjonjot dengan tujuan memperluas daerah penyerapan makanan. Embrio telah kuat menempel setelah hari ke-12 dari fertilisasi.1.
Pembuatan Lapisan Lembaga. Setelah hari ke-12, tampak dua lapisan jaringan di sebelah luar disebut ektoderm, di sebelah dalam endoderm. Endoderm tumbuh ke dalam blastosoel membentuk bulatan penuh. Dengan demikian terbentuklah usus primitif dan kemudian terbentuk Pula kantung kuning telur (Yolk Sac) yang membungkus kuning telur. Pada manusia, kantung ini tidak berguna, maka tidak berkembang, tetapi kantung ini sangat berguna pada hewan ovipar (bertelur), karena kantung ini berisi persediaan makanan bagi embrio.
Di antara lapisan ektoderm dan endoderm terbentuk lapisan mesoderm. Ketiga lapisan tersebut merupakan lapisan lembaga (Germ Layer). Semua bagian tubuh manusia akan dibentuk oleh ketiga lapisan tersebut. Ektoderm akan membentuk epidermis kulit dan sistem saraf, endoderm membentuk saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan, mesoderm membentuk antara lain rangka, otot, sistem peredaran darah, sistem ekskresi dan sistem reproduksi.
Membran (Lapisan Embrio). Terdapat 4 macam membran embrio, yaitu :
a. Kantung Kuning Telur (Yolk Sac)
Kantung kuning telur merupakan pelebaran endodermis berisi persediaan makanan bagi hewan ovipar, pada manusia hanya terdapat sedikit dan tidak berguna.
b. Amnion
Amnion merupakan kantung yang berisi cairan tempat embrio mengapung, gunanya melindungi janin dari tekanan atau benturan.
c. Alantois
Pada alantois berfungsi sebagai organ respirasi dan pembuangan sisa metabolisme. Pada mammalia dan manusia, alantois merupakan kantung kecil dan masuk ke dalam jaringan tangkai badan, yaitu bagian yang akan berkembang menjadi tall pusat.
d. Korion
Korion adalah dinding berjonjot yang terdiri dari mesoderm dan trofoblas. Jonjot korion menghilang pada hari ke-28, kecuali pada bagian tangkai badan, pada tangkai badan jonjot trofoblas masuk ke dalam daerah dinding uterus membentuk ari-ari (plasenta). Setelah semua membran dan plasenta terbentuk maka embrio disebut janin/fetus.
Plasenta atau Ari-Ari. Plasenta atau ari-ari berbentuk seperti cakram dengn garis tengah 20 cm, dan tebal 2,5 cm. Ukuran ini dicapai pada waktu bayi akan lahir tetapi pada waktu hari 28 setelah fertilisasi, plasenta berukuran kurang dari 1 mm. Plasenta berperan dalam pertukaran gas, makanan dan zat sisa antara ibu dan fetus. Pada sistem hubungan plasenta, darah ibu tidak pernah berhubungan dengan darah janin, meskipun begitu virus dan bakteri dapat melalui penghalang (barier) berupa jaringan ikat dan masuk ke dalam darah janin.
Catatan : Makin tua kandungan, jumlah estrogen di dalam darah makin banyak, progesteron makin sedikit. Hal ini berhubungan dengan sifat estrogen yang merangsang uterus untuk berkontraksi, sedangkan progesteron mencegah kontraksi uterus. Hormon oksitosin yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisis jugs berperan dalam merangsang kontraksi uterus menjelang persalinan. Progesteron dan estrogen juga merangsang pertumbuhan kelenjar air susu, tetapi setelah kelahiran hormon prolaktin yang dihasilkan kelenjar hipoftsislah yang merangsang produksi air susu.
E. Kontrasepsi
Kontrasepsi adalah suatu cara yang bertujuan mencegah terjadinya pembuahan, terdapat beberapa metode, antara lain:
a. Tanpa Alat Bantu
Dengan cara tidak melakukan koitus pada masa subur wanita (hari 12 – 16 siklus haid). Cara ini dikenal dengan nama sistem kalender atau abstinensi.
b. Menggunakan Alat Bantu
Mencegah pertemuan ovum dengan spermatozoa, dapat dilakukan dengan berbagai alat bantu, misalnya : kondom, spiral, jelly, dan lain-lain.
c. Sterilisasi
Sterilisasi dilakukan dengan mengikat/memotong saluran vas defereus dikenal dengan istilah vasektomi, atau mengikat/memotong tuba fallopii dikenal dengan istilah tubektomi.
Kimia – Sentral Semua Ilmu Pengetahuan – Definisi dan Cabang-Cabang Ilmu Kimia

Apa yang terlintas dalam benak anda ketika mendengar kata “Kimia”? Apakah itu Bom? rentetan rumus-rumus kimia yang membuat pusing, ataukah Laboratorium yang di huni orang-orang dengan kacamata tebal dan berbagai macam botol berisi cairan warna-warni? Apapaun yang terdapat dalam pikiran anda tentang kimia, memang kita tidak bisa terlepas dari aspek-aspek kimia dalam kehidupan sehari-hari...

